Technology Transfer Office Untuk Apresiasi Riset Peneliti

Technology Transfer Office Untuk Apresiasi Riset Peneliti

Technology Transfer Office (TTO) menjadi angin segar untuk peneliti. Mereka sangat menantikan kehadiran TTO yang bisa mengapresiasi penelitian mereka. Bukan cuma deviden pribadi, tetapi tujuan penelitian sendiri yang bisa bermanfaat untuk banyak orang.

Seorang peneliti Yuliati Herbani mengatakan, keterampilan bergerak dari hulu hingga hilir hingga produknya dikomersialisasikan tersebut adalahskill langka yang dapat ditemui pada peneliti atau akademisi. “Jika diminta skor 1-5, saya bakal beri nilai 5 guna TTO. Jadi, peneliti bakal lebih konsentrasi ke masalah rinci konten penelitian, sementara yang mengimplementasikannya terdapat pihak lain, pihak yang menginkubasi,” ujar peraih L’Oreal For Women in Science 2018 dengan proposal riset Pengembangan Nanopartel Kurkumin-Emas (Cur-GNPs) guna Aplikasi Terapi Kanker.

Yuliati menyadari, keterbatasan komunikasi publik dari peneliti yang sekitar ini menjadi penghalang.

Peneliti tidak dapat down to earth membahasakan konten penelitiannya. Kini yang dibutuhkan ialah orang-orang yang dapat menjembatani publik dan peneliti. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menurut keterangan dari dia, terdapat pusat riset inovasi yang pengusulan inkubasi lazimnya dari peneliti. “Peneliti sendiri yang mesti aktif, pihak inkubasi tidak jemput bola. Kalau aktif perlu komunikasi sains guna publik, ini yang tidak cukup di kita semua peneliti,” ungkap Yuliati.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun konon mempunyai Badan Riset Nasional. Dia bercita-cita pusat inkubasi teknologi ini bisa terpusat dalam satu payung.

“Semoga saja TTO bukan jadi institusi yang mandul. Dibuat, kemudian tak punya peran,” ucapnya. Pemerhati Manajemen IPTEK Ragil Yoga Edi mengatakan, TTO sebagai jembatan dari dunia litbang mengarah ke masyarakat atau industri.

Transfernya beragam, bergantung masyarakat pun provider teknologinya. Inkubasi yang sekitar ini terdapat di LIPI memang menguji apakah riset dapat sampai pasar. Ragil memberikan contoh yang pernah dirasakan oleh penelitian teknologi pupuk berbasis hayati.

Peneliti LIPI tahu pupuk berbasis mikroba dan tidak menciptakan material baru guna kesuburan tanaman, mengikat nitrogen lebih banyak. “Peneliti uji jajaki ke skala kecil, dan skala besar. Ternyata tidak terdapat kemampuan andai besar. Jadi, gunanya inkubator untuk mempercayai hasil penelitian dapat dilaksanakan untuk skala besar atau industri,” jelasnya.

Konsep TTO telah ada lama, namun tidak berkembang sebab SDM yang tidak cukup menguasai. Fasilitas pun dirasa kurang, maka dibutuhkan inkubator guna improve kelemahan pada riset.Seiring dengan pertumbuhan komunikasi dengan industri yang semakin terbuka, proses inkubasi telah tidak dapat dipisahkan dengan nanti hadirnya TTO, sentra HKI sekarang sudah tidak butuh lagi mempunyai inkubator.

Kini bisa langsung mengerjakan uji di industri. Ragil yakin, skema inkubasi langsung di industri ini bisa jadi besar berhasil. Mereka dapat juga dinamakan sebagai partner industri. Sementara dari segi pemerintah menyaksikan tugas TTO yang penting dilaksanakan ialah menyosialisasikan hak kekayaan intelektual (HKI) untuk para peneliti.

Sabartua Tampubolon, Direktur Harmonisasi Regulasi dan Standardisasi, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengatakan, di samping TTO ada pun Technology Licensing Office (TLO). Keduanya nyaris sama, tapi dominan pada praktik apa yang sedang dikerjakan.

TLO berupa sentra HKI tapi kegunaannya sudah menggarap lisensi, sementara TTO masih berupa pengembangan penelitian dan baru bakal mendapatkan HKI. Di Indonesia beberapa besar masih TTO, Sabartua mengungkapkan, kenyataan yang terjadi di perguruan tinggi penelitian yang dilaksanakan belum susunan HKI. Perguruan Tinggi atau lembaga litbang belum menjadikan HKI sebagai konsentrasi mereka.

“Belum seluruh peneliti tahu, penelitian mereka akan dipakai untuk apa. Belum dipikirkan guna memecahkan masalah di masyarakat. Tema penelitian yang terdapat memang melulu karena keinginan dari peneliti,” ungkapnya.

Maka, Bekraf mengambil tahapan untuk sosialisasi dan pencatatan HKI, tergolong hak cipta, desain, merek, guna mengayomi karya intelektual semua peneliti. Memang hasil penelitian yang ditolong Bekraf bertolak belakang dari yang dikelola Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Bekraf lebih tidak jarang mengkaji inovasi pribadi ketimbang tim. Bekraf pun tidak jarang menjemput bola ke komunitas menggali inovasi di luar lembaga pendidikan. HKI paling penting, namun masih belum tidak sedikit yang sadar.

Sabartua memaparkan, melulu 11% penelitian di Indonesia yang sudah mendapat HKI. Banyak TTO yang belum menyerahkan kesadaran, sosialisasi yang tidak cukup masif. “Kalau di Jepang, riset tersebut dari mula sudah diteliti kekayaan intelektualnya akan laksana apa. Hak paten, hak cipta, atau apa. Kalau di Indonesia tidak, mengerjakan riset dulu, baru menilai.

Tidak terdapat analisis terlebih dahulu keperluan apa yang mendasari peneliti menciptakan proyek tersebut,” ungkapnya. Baginya, sebuah penelitian harus berorientasi pada kekayaan intelektual. Jangan tidak dipedulikan lagi penelitian sekarang melulu keinginan peneliti. Kendala peneliti dalam mengurus HKI karena ingin melindungi karya secara individual. Misalnya, hak paten seseorang, namun sebenarnya keunggulan HKI walaupun mengayomi individual, tetap terdapat masa waktunya.

Ketika telah lewat batas waktu, bakal menjadi kepunyaan umum. “Ada perlindungan guna memberi insentif untuk penemunya. Memang mesti diberi apresiasi supaya peneliti terus bersemangat. Kalau tidak dibentengi kepentingan pribadi, dia tidak termotivasi untuk menciptakan sesuatu inovasi yang lebih berfungsi ke depannya,” ujar penulis kitab Politik Hukum Iptek di Indonesia.

Sabartua berharap, TTO mengerjakan salah satu kegunaannya untuk menyuruh peneliti di lingkupnya mempunyai HKI. Setelah itu, terdapat apresiasi tambahan sampai-sampai dapat menjadi motivasi untuk yang lain.

Sumber : https://www.nethost.cz/prekroceni-systemovych-zdroju?url=www.pelajaran.co.id