Sumpah Pemuda dan Makanan Asli Indonesia

Sumpah Pemuda dan Makanan Asli Indonesia

Sumpah Pemuda dan Makanan Asli Indonesia

Sumpah Pemuda dan Makanan Asli Indonesia
Sumpah Pemuda dan Makanan Asli Indonesia

“Emang orang Indonesia harus makan pizza? Lalu mengapa orang Italia tidak kenal karedok?” Pertanyaan balik saya, ketika ada seseorang yang menyebutkan makan pizza adalah tren terkini dan dampak globalisasi. Jujur, saya mencurigai istilah globalisasi atau apalah itu sebagai penghalusan dari ekspansi politik ekonomi pangan, yang begitu mulusnya menggelincir seperti hipnosis terselubung, “Indonesia begitu kaya loh dengan puluhan varian ubi, hingga talas, ganyong, kimpul, dan berderet sumber karbohidrat lain. Jadi buat apa kita makan pizza?”

”Oh ya! pizza juga bisa lho dibuat dari bahan umbi!” Ya Tuhan, dipaksakan lagi. Malu kah bangsa ini makan ubi rebus?

Globalisasi tidak selayaknya membuat kita lupa sebagai orang Indonesia. Tidak semuanya harus sama dimana-mana. Kita indah, karena kita punya apa yang mereka tidak punya. Biarkan Jepang punya onigiri, kita punya lemper. Yang tidak boleh dan tidak etis, bila kita bilang lemper atau arem-arem isi oncom itu kampungan dan onigiri keren.

Kita kaya karena apa yang kita punya. Namun fakta berkata, kita telah dihadapkan pada fenomena dimana anak-anak muda riuh mengejar kedai jajanan asing di mal-mal mewah, merasa ‘keren’ sekaligus berfoto dengan apa yang mereka sebut sebagai ‘makanan dan minuman’ – yang seratus tahun lalu saja tidak eksis. Dan seratus tahun lalu, diabetes maupun penyakit jantung koroner akibat gaya hidup pun tidak eksis di anak muda pertengahan tiga puluh tahun. Rasanya tidak salah jika ada yang pernah mengatakan bahwa, 80% benda yang disebut ‘makanan’ pada rak-rak toko swalayan, sebenarnya 100 tahun yang lalu tidak pernah ada.

Industri pangan yang berlomba menciptakan ribuan jenis pangan baru yang seabad lalu bahkan tak ada di rak swalayan, menyebabkan manusia mempunyai ‘normalitas baru’ sebagai konsumennya. Tentu saja, produsen mengklaim betapa sehatnya makanan baru tersebut dari deretan komposisi yang terpampang di dusnya, yang tercantum nama-nama aneh dan sulit karena sebagiannya sintetis. Tapi maraknya iklan itu membuat publik lupa bahwa tubuhnya tidak semata-mata terbuat dari apa yang tertulis di sana. Padahal ‘Makan yang bukan makanannya’, membuat sistem tubuh berantakan.

Publik yang dasarnya hanya butuh diberi makan, mana mau tahu dengan istilah-istilah sulit. Bahwa apa yang dimakan nantinya menimbulkan penyakit, dianggap “biarlah Tuhan yang mengatasi”. Yang penting hari ini: Makan!

Di tengah maraknya makanan asing masuk, adakah pemuda yang masih mau ‘mikir’ dan peduli serta bertanya dengan galau, ”Katanya kita negri yang kaya, kok apa-apa impor ya?” Pertanyaan serupa bisa muncul jika melihat fakta, bahwa negri ini yang sebetulnya berlimpah berkat alam mulai dari kekayaan tanah hingga laut, tapi rakyatnya mengonsumsi produk pabrik. Seakan mengubah kodrat negara agraris mendadak sontak jadi industrialis.

Mengaca pada negara maju di benua selatan sana, tak malu-malu mereka menempelkan stiker hasil bumi dengan sombong, “proudly Australian grown”. Mereka tidak risau, tidak memiliki pabrik garmen apalagi industri pesawat, karena mereka paham betul karakter produk andalan negrinya.

Jadi, memang kuncinya ada di karakter. Sayangnya, pendidikan karakter ini berangsur-angsur terkikis dengan fenomena harian yang sudah lebur dengan istilah ‘globalisasi’. Globalisasi kebablasan dan berat sebelah, membuat kita malu makan lemper dan dengan rakusnya justru mengunyah sushi maupun onigiri.

Bahkan, lebih kenal almond dan chia seeds ketimbang melihat dengan mata kepala sendiri, pangan asli bangsa ini berupa ganyong atau kimpul. Kita pun menyiyakan saja bahwa sereal oat, roti gandum dan havermut itu baik untuk sarapan. Lebih baik dari pada nasi.

Sebegitu miskinkah negri ini hingga sarapan pun harus berbahan baku impor? Sebegitu minder-kah bangsa ini? Kadang, ada rasa gerah melihat begitu banyak orang lokal bergaya asing yang berkeliaran di negri sendiri. Bangsa ini butuh karakter. Bukan hanya dalam bentuk mata pelajaran yang tertulis di tiap RPP guru. Tapi, praktik nyata yang juga dilakoni para tokoh panutan.

Sumber : https://filehippo.co.id/