Plano dan Setengah Cintaku

Plano dan Setengah Cintaku

Table of Contents

Plano dan Setengah Cintaku

Plano dan Setengah Cintaku
Plano dan Setengah Cintaku
Ada dua masa penting yang sangat berarti di dalam hidupku, yaitu pada saat sebelum dan sesudah aku memasuki Jurusan Planologi ini.

 

Pra-masuk Plano
Aku merasa sangat bahagia pada saat kelas 2 SMA. Hidup ini indah. Kujalani hari-hari yang menyenangkan bersama para guru, teman-teman, dan keluargaku. Aku pun pernah merasakan makna cinta …, walaupun akhirnya patah hati, sih.

 

Namun, hidupku berubah (nggak sampai 1800) sejak aku naik ke kelas 3. Kehidupanku yang enjoyable berangsur-angsur mulai menghilang dari hadapanku. Tak ada lagi keceriaan seperti dulu. Tak ada gurauan lepas, canda yang bisa membuatku tertawa. Ya, aku mulai mengalami sindrom ketegangan, ketakutan, …

 

Banyak try out melelahkan yang harus kujalani. Bimbingan belajar yang seolah mampu membuat kepalaku ingin meledak karena tekanan panas yang terlalu berlebihan. (Perlu diingat! Tidak hanya otak, mesin pun kalau terus menerus digunakan akan cepat rusak). Rasanya, ingin kuceburkan saja kepalaku ke air dingin.

 

Aku melalui semuanya dengan beban yang menggantung di bahuku. Bagaimana tidak beban? Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan sekolah-sekolah favorit di Semarang, SMA-ku merupakan SMA yang terbaik di Pati. Tentu saja, orang tua, kakek, nenek, om, bulik, … semuanya mengharapkan aku dapat masuk ke fakultas favorit dengan jurusan terbaik yang dimilikinya. Jujur, pada saat itu, aku sudah lupa bagaimana caranya untuk tertawa, tersenyum, menangis. Aku seperti robot yang belajar dan belajar.

 

Sebenarnya, aku ingin berlari kencang hingga ke ujung mimpi. Namun, bagaimana caranya? Aku tidur untuk melupakan semua. Akan tetapi, begitu terbangun, aku kembali mengingat masalah-masalah itu. Pantas saja, banyak orang yang memilih untuk menggunakan narkoba!

 

Waktu pun terus berlalu tanpa menyisakan ruang untuk mengisi kebahagiaan yang telah lama kosong. Semua anak kelas 3 sibuk mencari cara untuk dapat memasuki perguruan tinggi favoritnya masing-masing. Segala jalur ditempuh, mulai jalur prestasi olahraga dan seni, PSSB, de el el (maaf, aku lupa yang laen!)

 

Tentu saja atas saran dari orang tua, aku memilih memasukkan dataku lewat jalur PSSB, dengan pilihan jurusan yang kumasuki sekarang. Padahal, baik aku maupun ayah ibuku tidak tahu jurusan apa itu. Nama PWK terasa asing di telinga kami.

 

Hingga akhirnya, aku tidak diterima lewat PSSB. Aku menjadi semakin putus asa. Teman-teman sudah mulai mendapatkan sekolah dan aku belum. Ada rasa panik yang menjalar di hati. O y, teman-temanku yang diterima di Kedokteran membayar 175 juta, sedang Teknik Sipil 50 juta. Jadi untuk diterima PSSB, memang harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Mana aku sanggup. Orag tuaku hanyalah guru yang mempunyai penghasilan yang relatif kecil.

 

Lau, aku mencoba jalur UM UGM. Ternyata, aku tidak diterima juga. Tubuhku seakan hancur seketika bersama dengan hatiku. Aku semakin terpuruk. Senyumku pun semakin menghilang. Aku takut jika mengecewakan orang tua yang telah membesarkan aku dengan sepenuh hati.

 

Hingga akhirnya, UM Undip hadir memnberikan seberkas cahaya yang masuk ke celah hatiku. Pada saat pengumuman, aku tidak berharap banyak. Akan tetapi, ketika mengetahui bahwa aku diterima, aku melonjak girang. Ya Allah, ternyata aku masih bisa tertawa. Namun, gembira itu hanya sesaat. SPMP untuk Teknik cukup besar. Apakah ayah ibu mau membayarnya? Untunglah, mereka bersedia, walaupun aku tahu bahwa uang yang dibayarkan adalah hasil dari hutang. Keluargaku memang tidak kaya, tetapi ayah ibu ternyata ingin memberikan masa depan yang terbaik bagi anaknya.

 

Terima kasih Ayah, Ibu … Aku tidak akan mampu membalas jasa kalian selama ini, walaupun ditukar dengan nyawa sekalipun.