Modernisasi Versus Kearifan Lokal

Modernisasi Versus Kearifan Lokal

Modernisasi Versus Kearifan Lokal

Modernisasi Versus Kearifan Lokal
Modernisasi Versus Kearifan Lokal

20 tahun yang lalu manusia memberi makan dirinya sesuai apa yang alam sodorkan. Namun kini saya merasakan, betapa sulit menemukan pisang kepok di warung kampung, ketimbang mie instan atau biskuit cokelat. Bahkan saya tidak menemukan lagi penjual minuman tradisional bajigur dan ubi rebus di depan rumah.

Yang lebih aneh lagi, rupanya kini buah dijadikan ekstrak – atau lebih parah lagi hanya aroma sintetisnya, dan dikemas dalam rupa minuman baru sarat gula serta pewarna buatan. Saya berharap adanya kesalahan data statistik Riset Kesehatan Dasar 2013 yang menyatakan 93.5% penduduk Indonesia di atas usia 10 tahun kurang makan sayur dan buah. Pasalnya ketika masuk kampung halaman, saya saksikan sendiri begitu banyak pohon pisang sehat-sehat berbuah ranum menjuntai, suburnya tanaman singkong di setiap petak kebun, bahkan pohon pepaya tak mau kalah memamerkan hasil buahnya. Nanas dan Jambu berbuah lebat di halaman depan dan belakang rumah warga.

Melihat fenomena gemah ripah loh jinawi serupa itu, dan hasil data statistik, tampaknya itu semua menjadi terlihat konyol. Kemanakah hasil bumi yang melimpah ruah itu? Hanya demi uang semata dilempar ke luar wilayah dengan harga tak seberapa. Atau, diserap industri dijadikan ‘makanan olahan’?

Keterlaluan sangat, jika anak-anak desa banyak yang kekurangan gizi karena alasan orangtuanya tidak mampu membeli susu bubuk yang tak lebih baik dari asi. Anak-anakpun dijejali susu kental manis dan biskuit murahan berkat suksesnya iklan.

Beginilah bila cara pandang kita hanya berorientasi pada uang dan penghasilan berupa uang, bukan melihat kemakmuran dari sudut pandang kecukupan gizi anak, tumbuh kembang atau bayi lahir sehat dari ibu yang siap menyusui dua tahun penuh.

Menyaksikan semua fenomena itu, saya pikir ada sesuatu yang ‘hilang’ belakangan ini. Sebut saja kearifan. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata arif memuat artian luhur yang bisa diandaikan wujud ideal manusia paripurna. Bukan sekadar cerdik dan pandai, orang arif memahami sesuatu dengan kebijaksanaan.

Yang pasti, kearifan jauh dari keserakahan apalagi sifat licik memanfaatkan pangsa pasar.  Orang yang arif tidak gegabah menempatkan ilmu yang dimiliki untuk mengatasi kodrat. Pengetahuan tanpa kearifan membuat manusia membayar mahal, salah satunya pada masalah kesehatan. Tubuh adalah fenomena alam yang tak mungkin dimanipulasi. Tubuh selalu jujur memberi umpan balik saat empunya badan berlaku zolim pada dirinya. Saat hukum kodrat terinjak.

Kearifan juga kerap membawa kita kembali pada pemikiran tradisional, yang secara keilmuan bila digali akan memancarkan kebijaksanaan. Begitu banyak kearifan dan sumber pangan lokal yang lolos dari ingatan. Lolos dari ajaran dan ajakan makan bagi anak-anak kita. Padahal, makanan itu disebut enak karena diajarkan dan dibiasakan.

Memang peradaban modern menjadikan agrikultur lebih manusiawi dan agribisnis modern memajukan usaha dan pengadaannya hingga ke tangan konsumen. Tapi jangan sampai itu semua mengubah paradigma kita tentang pangan, makan dan gaya hidup menjadi ikut-ikutan tren dan globalisasi semata yang begitu lekat.

Melepaskan diri dari sesuatu yang sudah melekat memang tidak mudah. Hal yang melekat itulah merupakan distraksi, alias pengalihan fokus dari tujuan yang hendak dicapai. Menghilangkan fokus kita akan mana hal yang ‘penting’. Sehingga akhirnya, apa yang kelihatan sebagai ‘seharusnya’ menjadi mimpi belaka, ketimbang apa yang penting diperbuat. Padahal, faktanya, manusia tidak menjalankan apa yang ‘seharusnya’ – melainkan apa yang saat itu penting.

“Seharusnya, kendaraan berhenti saat palang pelintasan kereta api turun. Tapi orang memilih menerobos kolong palang pintu, karena yang penting ingin cepat-cepat sampai di tujuan.”

Kita perlu  mengembalikan makanan pada fungsi aslinya, sebagai kodrat untuk bertahan hidup, bukan tren dan gaya hidup atau sekedar kesenangan semata lewat nikmatnya cicipan lidah. Karena semua fungsi lainnya itu hanya pelengkap, bukan yang utama.

Tidak banyak yang paham tentang istilah ‘makanan sungguhan’ untuk kebutuhan manusia sesungguhnya dan ‘makanan budaya’ yang muncul akibat perjalanan evolusi budaya – bukan karena dibutuhkan tubuh. Melainkan, karena dicandukan lidah dan mendongkrak pasar di era industri.

Padahal, kita lahir terbungkus kantung ari-ari, bukan kantung plastik. Kearifan untuk mengakui hukum kodrat dan kebutuhan kodrati seakan sudah lenyap. Makan disejajarkan hanya sebagai kebutuhan fisik belaka, yang bisa dihitung lewat ilmu kalori dan teori gizi. Seakan, makanan asli ciptaan Tuhan sudah tersaingi oleh buatan manusia. Kalau kita sadari, bahwa kenikmatan lidah pun merupakan tempaan pembiasaan dan pembelajaran. Dan bahwa kenikmatan hidup juga berarti tubuh bugar bebas obat dan penyakit.

Bila peradaban beribu tahun yang lalu telah mewariskan Borobudur yang begitu dikagumi, lalu peradaban kita hari ini meninggalkan apa bagi generasi sekian abad mendatang? Penyakit kontemporer?

Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia, yang diselenggarakan tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta). Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Keputusan ini menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”.

Dengan momentum sumpah pemuda ini, saya dengan lancang sembari berseloroh menambahkan sumpah pemuda tanpa mendiskreditkan perjuangan para pahlawan, dengan menegaskan point tambahan: “Makanan Indonesia” , demi ketahanan nasional dan bela negara.

Sumber : https://downloadapk.co.id/