Etika Seorang CEO

Table of Contents

Etika Seorang CEO

Menempati posisi puncak di perusahaan sesungguhnya menjanjikan kenyamanan, beragam layanan dan gaji besar. Tetapi, jadi eksekutif tidak selamanya nyaman dan menyenangkan.Dengan posisi tertinggi, sang Kepala Eksekutif dituntut memberi tambahan perumpamaan yang baik kepada bawahan, dan juga berhati-hati didalam memelihara etika perusahaan, terhitung pertalian teristimewa bersama dengan bawahan. Jika tidak, sanksi dan hukuman siap mengancam. Bukan hanya nama baiknya yang tercoreng, tetapi mereka kudu membebaskan dan meninggalkan jabatan perlu yang disandangnya.

Apabila moral merupakan suatu hal yang mendorong orang untuk melakukan kebaikan etika melakukan tindakan sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan kesepakatan secara senang dari semua bagian suatu kelompok. Dunia bisnis yang bermoral akan sanggup mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menanggung aktivitas bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi.Etika sebagai rambu-rambu didalam suatu grup masyarakat akan sanggup membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang kudu selamanya dipatuhi dan dilaksanakan. Etika di didalam bisnis telah tentu kudu disepakati oleh orang-orang yang berada didalam grup bisnis dan juga grup yang mengenai lainnya.

Dunia bisnis, yang tidak tersedia menyangkut pertalian pada pebisnis bersama dengan pengusaha, tetapi mempunyai kaitan secara nasional lebih-lebih internasional. Tentu didalam perihal ini, untuk mewujudkan etika didalam berbisnis kudu obrolan yang transparan pada semua pihak, baik pengusaha, pemerintah, masyarakat maupun bangsa lain agar jangan hanya satu pihak saja yang mobilisasi etika waktu pihak lain berpijak kepada apa yang mereka inginkan. Artinya jika tersedia pihak mengenai yang tidak mengerti dan menyetujui adanya etika moral dan etika, mengerti apa yang disepakati oleh kalangan bisnis tadi tidak akan dulu sanggup diwujudkan. Jadi, mengerti untuk menghasilkan suatu etika didalam berbisnis yang menanggung adanya kepedulian pada satu pihak dan pihak lain tidak kudu obrolan yang bersifat international yang mengarah kepada suatu aturan yang tidak merugikan siapapun didalam perekonomian.
Dalam menciptakan etika bisnis, tersedia sebagian perihal yang kudu diperhatikan, pada lain ialah:

1. Self Control (Pengendalian diri)
Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang mengenai sanggup mengendalikan diri mereka tiap-tiap untuk tidak memperoleh apa pun dari siapapun dan didalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak memperoleh keuntungan bersama dengan jalur main curang dan menekan pihak lain dan memanfaatkan keuntungan bersama dengan jalur main curang dan menakan pihak lain dan memanfaatkan keuntungan selanjutnya walau keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya terhitung kudu mencermati suasana masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang “etis”.

2. Social Responsibility (Tanggung jawab sosial) Pelaku bisnis disini dituntut untuk hiraukan bersama dengan suasana masyarakat, bukan hanya didalam bentuk “uang” bersama dengan jalur memberi tambahan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai perumpamaan kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual terhadap tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand kudu jadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis bersama dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, didalam suasana excess demand pelaku bisnis kudu sanggup mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.

3. Jati Diri
Mempertahankan jati diri dan tidak ringan untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi, bukan bermakna didalam beretika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu kudu dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.
4. Persaingan Yang Sehat
Persaingan didalam dunia bisnis kudu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi kompetisi selanjutnya tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, kudu terkandung pertalian yang erat pada pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, agar bersama dengan perkembangannya perusahaan besar sanggup memberi tambahan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu didalam menciptakan kompetisi kudu tersedia kekuatan-kekuatan yang sebanding didalam dunia bisnis tersebut.

5. Pembangunan Berkelanjutan Dunia bisnis semestinya tidak memikirkan keuntungan hanya terhadap waktu sekarang, tetapi kudu memikirkan bagaimana bersama dengan suasana dimasa mendatang. Berdasarkan ini mengerti pelaku bisnis dituntut tidak meng-“ekspoitasi” lingkungan dan suasana waktu sekarang semaksimal barangkali tanpa memperhitungkan lingkungan dan suasana dimasa datang walau waktu sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.
6. Mandiri
Menghindari Jika pelaku bisnis telah sanggup jauhi sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi) kami percaya tidak akan berjalan kembali apa yang dinamakan bersama dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang didalam dunia bisnis ataupun berbagai persoalan yang mencemarkan nama bangsa dan negara. Hal ini bukan bermakna salam berbisnis kami jauhi sikap terbuka untuk bekerjasama bersama dengan pemegang kekuasaan regulator/ pejabat pemerintah akan tetapi mengembangkan sikap profesional sebagai pemimpin perusahaan yang tangguh, mempunyai kekuatan bergaining yang mantap.

7. Obyektif
Seorang pemimpin perusahaan yang beretika akan selamanya sanggup menunjukkan yang benar itu benar,

8. Mutual Trust (Sikap Saling Percaya).
Menumbuhkan sikap saling percaya pada golongan pebisnis kuat dan golongan pebisnis kebawah kudu dikembangkan untuk menjalin kerjasama yang kondusif. Terkadang keyakinan itu hanya tersedia pada pihak golongan kuat saja, waktu sekarang telah waktunya memberi tambahan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah didalam dunia bisnis

9. Konsekuen dan Konsisten
Bila semua rencana etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan sanggup terlaksana misalnya setiap orang tidak senang konsekuen dan berkelanjutan bersama dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua disaat bisnis telah disepakati, waktu tersedia “oknum”, baik pebisnis sendiri maupun pihak yang lain coba untuk melakukan “kecurangan” demi kepentingan pribadi, mengerti semua rencana etika bisnis itu akan “gugur” satu semi satu.
10. Sense of Belonging
Kesadaran dan rasa punya terhadap apa yang telah disepakati kudu dikembangkan, jika etika ini telah dimiliki oleh semua pihak, maka mengerti tiap-tiap akan memperoleh suatu ketentraman dan kenyamanan didalam berbisnis.

Saat ini etika bisnis belum dituangkan didalam suatu hukum positif yang bersifat aturan perundang-undangan perihal ini mejadi kendala untuk memberi tambahan kepastian hukum didalam berbisnis lebih-lebih didalam memberi tambahan “proteksi” terhadap pebisnis lemah. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang bermoral dan beretika waktu sekarang ini telah dirasakan dan amat diharapkan semua pihak lebih-lebih bersama dengan makin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka bumi ini. Dengan adanya moral dan etika didalam dunia bisnis dan juga kesadaran semua pihak untuk melaksanakannya, kami percaya jurang itu akan sanggup diatasi.

Kecenderungan makin banyaknya pelanggaran etika bisnis membawa dampak keprihatinan banyak pihak. Pengabaian etika bisnis dirasakan akan mempunyai kerugian tidak saja bikin masyarakat, tetapi terhitung bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para pebisnis yang tidak mencermati etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan negara.

baca juga :