Akankah Kita Kehilangan Dia (Mangrove) Untuk Selamanya

Akankah Kita Kehilangan Dia (Mangrove) Untuk Selamanya

Akankah Kita Kehilangan Dia (Mangrove) Untuk Selamanya

Akankah Kita Kehilangan Dia (Mangrove) Untuk Selamanya
Akankah Kita Kehilangan Dia (Mangrove) Untuk Selamanya
Mengapa kelompok kami mengambil tema tentang hutan mangrove? Mengapa? Mengapa? Karena keberadaan hutan mangrove telah menimbulkan keprihatinan yang mendalam di hati kami. Sekarang ini, kita tahu bahwa hutan mangrove di dunia tinggal 180.000 km2. Sedangkan Indonesia sendiri mempunyai luas sekitar 3,5 juta hektar. Jumlah ini semakin berkurang setiap tahunnya, terutama terjadi di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Secara umum, hal tersebut disebabkan oleh adanya pencemaran dari unsur hara tanah. Sumber pencemaran perairan ini akibat adanya industri, limbah cair pemukiman, pertambangan, pelayaran, pertanian, dan proses alamiah air.

 

Namun, apabila kita melihat ke dalam ruang lingkup yang lebih kecil, misalnya saja Semarang yang memiliki presentase hutan mangrove yang tergolong kecil. Para pengembang, melalui politik yang kotor, sangat senang mereklamasi pantai menjadi kawasan permukiman. Sebagai akibatnya, hutan mangrove pun perlahan-lahan mulai menghilang dari pandangan. Padahal, hutan mangrove mempunyai berbagai macam manfaat yang sangat berguna bagi kehidupan manusia, antara lain:

 

# Keberadaan hutan mangrove penting untuk menunjang kelangsungan hidup masyarakat, terutama yang berada di daerah pesisir pantai.
# Hutan mangrove bisa dijadikan sebagai proteksi wilayah pantai dari berbagai gangguan alam, seperti erosi.
# Mangrove juga digunakan sebagai tempat hidup bagi keberadaan ikan-ikan di sekitar wilayah pantai.
# Dapat juga dijadikan sebagai objek wisata yag tentu saja berbeda dengan objek wisata alam lain. Hutan mangrove yang telah dikembangkan, antara lain di Sinjai Sulawesi Selatan), Muara Angke (DKI), Suwung, Denpasar (Bali), Blanakan dan Cikeong (Jawa Barat), dan Cilacap (Jawa Tengah). Kegiatan ini tentu saja akan berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan masyarakat sekitar melalui penjualan tiket masuk dan parkir, membuka warung makan, menyewakan perahu, maupun menjadi pemandu wisata.

 

Selain itu, hutan mangrove sangat berhubungan dengan adanya fenomena global warming alias pemanasan global, yang mengakibatkan terjadinya peningkatan permukaan air laut di seluruh dunia. Bahkan, pada tahun 2030, diperkirakan air laut akan naik setinggi 30 cm. Meskipun, dapat ditanggulangi dengan pembuatan talut-talut di sepanjang pantai, tetapi menurut saya strategi tersebut tidak akan sepenuhnya berhasil. Talut berbeda mangrove. Talut adalah benda mati, sedangkan hutan mangrove merupakan benda hidup. Tentu saja, hutan mangrove mempunyai akar yang cukup kuat untuk menahan serangan gelombang air laut yang menuju ke daratan.

 

Jadi, kelestarian hutan mangrove sudah sepantasnya kita jaga. Peran pemerintah melalui sosialisasi yang dilakukan secara teratur diharapkan akan dapat menyadarkan masyarakat akan pentingnya hutan mangrove. selain tu, pemerintah juga harus menghentikan perizinan kepada para pengembang yang berusaha untuk mengkonversi hutan mangrove menjadi bentuk lain, seperti tambak, industri, permukiman, HPH, dan lain-lain. selanjutnya, rehabilitasi hutan juga dapat dilakukan pada hutan-hutan mangrove yang memiliki kondisi yang paling kritis dan membutuhkan penanganan segera. Rehabilitasi tersebut harus dilakukan secara dinamis dengan memperhatikan aspek-aspek penting berupa keterpaduansumber daya alam, keterpaduan ekologis, keterpaduan sektoral, keterpaduan keilmuan, dan keterpaduan pelaku utama/stakeholder.