Ajak Masyarakat Bina Karakter Siswa

Ajak Masyarakat Bina Karakter Siswa

Ajak Masyarakat Bina Karakter Siswa

Ajak Masyarakat Bina Karakter Siswa
Ajak Masyarakat Bina Karakter Siswa

Peran serta masyarakat dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu dipandang sangat penting.

Apalagi menghadapi abad 21 atau sering disebut era milenial.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung melalui Ketua Bindang P3TK, Cucu Saputra mengungkapkan, bahwa agar pihak sekolah, para orang tua siswa jangan terjebak oleh mainstream lebih kepada akademik orientid dengan melupakan pembentukan karakter para siswa.

Dia menilai, jika siswa hanya dibekali pinter secara akademik belaka tapi tidak berkarakter maka akan percuma saja. Sebab, peran orang tua dan masyarakat adalah utama dalam mendidik anak.

Cucu menjelaskan, tantangan terbesar di era milenial adalah keteladanan. Kemudian juga perlu adanya kerja sama antara orang tua dan guru melakukan kolaborasi dengan baik.

’’Peranannya sangat penting kolaborasi ini. Misalnya di Sekolah dilarang meroko yak harusnya di rumahnya pun dilarang. Jangan sampai disekolah dilarang orang tuanya membolehkan,’’ ujar Cucu ketika ditemui kemarin (29/8).

Dia menambahkan, pada prinsipnya Disdik kota Bandung terus meningkatkan kompetensi

pendidik dan tenaga kependidikan sesuai visi dinasnya yakni bermutu berkeadilan dan berwawasan lingkungan.

“Pendidikan bermutu itu akan terwujud manakala pendidik dan tenaga kependidikan bermutu. Maka kaitan dengan tengaa pendidik dan tenaga kependidikan ada yang namanaya penguatan kompetensi” ujarnya

Dia meyakini bahwa program pelatihan yang diberikan kepada kepala sekolah dan tenaga

kependidikan melalui program Kompetensi sosial dan kepribadiannya ( KSK) akan berhasil. Alasannya adalah berdasarkan keyakinan yakni berkaitan dengan keteladanan.

“Bukan berarti selama ini kepala sekolah dan tenaga kependidikan yang lain tidak memberikan keteladan tapi kita upayakan meningkat.

Hal demikian dihubungkan dengan semangat Bandung Masagi. Karena Bandung memiliki model tersendiri yakni dengan menggali kearifan lokal. Yakni dengan silih asah, silih asuh silih wawangi.

“kita bekerjasama dengan narasumber yang kompeten untuk meng implementasikan hal itu” pungkasnya.

 

Sumber :

https://nashatakram.net/