Revitalisasi Dan Reaktualisasi sikap Nasionalisme Dan Patriotisme

Revitalisasi Dan Reaktualisasi sikap Nasionalisme Dan Patriotisme

Revitalisasi Dan Reaktualisasi sikap Nasionalisme Dan Patriotisme – Nasionalisme adalah persoalan yang fundamental bagi sebuah negara, terlebih-lebih terkecuali negara berikut punyai cii-ciri primordial yang amat pluralistik. Klaim udah dicapainya Bhineka Tunggal Ika, apalagi melalui politik homogenisasi, memang tidak dulu benar-benar jadi kenyataan sejarah, melainkan sebuah agenda nation-building yang syarat beban harapan. Oleh gara-gara itu, ia kerap menjadi hambar. Dengan penafsiran tersendiri, ini wujud imagined community seperti makna Benedict Anderson. Anderson (19830 memakai makna imajinasi untuk menggambarkan kemiripan makna perihal fantasi. Penjelasannya lebih cenderung memakai asumsi seperti politik untuk mengatakan kaitan antara imajinasi kolektif yang mengikat suatu komunitas. Orang disatukan sebagai suatu negara gara-gara persamaan identitas darah, ideologi, dan kepentingan.

Sementara itu, Gellner (1997) lihat bahwa persatuan budaya sebagai hubungan antar manusia yang melandasi nasionalisme. Begitu terhitung bersama Ibn Khaldun didalam Nuseibeh (1969) menyatakan bahwa bahasa sebagai penegak alunvial bagi tumbuhnya nasionalisme. Teori Renan tampaknya amat berpengaruh pada elit terpelajar Indonesia didalam memunculkan Nasionalisme. Karena melalui hasrat bersama yang amat diutamakan oleh kaum nasionalisme Indonesia didalam rangka menghadapi kaum kolonialis. Elit terpelajar inidengan sengaja mengusahakan menciptakan mentalitas nasionalisme Indonesia Hal ini kerap di ungkapkan oleh para tokoh penggerak, terlebih Soekarno. Melalui pidatonya dan karya-karyanya, ia selamanya mengajak bangsa Indonesia untuk menengok kejayaan bangsa Indonesia di masa lampau (Sriwijaya, Majapahit) dan Bersatu-padu untuk mengusir penjajah berasal dari bumi Nusantara. Soekarno (1964: 3) terhitung kerap mngutip gagasan renan, bahwa keberadaan suatu bangsa hanya bisa saja andaikata rakyat punyai satu jiwa, gara-gara rakyat indonesia punyai latar belakang peristiwa yang mirip dan untuk mesti punyai hasrat untuk bersatu, bersama tidak membeda-beda suku, ras, dan agama.

Staub (1997: 214) membagi patriotime didalam dua anggota yakni:

1) blind patriotism (patriotisme buta),

Patriotisme buta didefinisikan sebagai sebuah keterikatan kepada negara bersama ciri khas tidak mempertanyakan segala sesuatu, loyal dan tidak toleran pada kritik.

2) constructive patriotism (patriotisme konstruktif),

Patriotisme Konstruktif ini didefinisikan sebagai sebuah keterikatan kepada negara bersama ciri khas mendukung terdapatnya kritik dan pertanyaan berasal dari anggotanya pada berbagai kesibukan yang dilaksanakan atau berlangsung agar diperoleh suatu perubahan positif fungsi raih kesejahteran bersama. Patriotisme konstruktif ini didalam makna Humbermas (Latcheva, 2010) adalah patriotisme konstitusional, yaitu patriotisme yang dilandasi bersama prinsip-prinsip konstitusi dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal berasal dari pada tekankan pada identitas peristiwa dan budaya. Dari rencana patriotisme konstruktif atau konstitusi berikut diatas, maka seorang yang layak disebut patriot adalah orang yang menghormati dan mencintai grup baik itu grup (partai, suku, bangsa, atau negara), tetapi lebih berasal dari itu ia mesti menghormati nilai-nilai dan konstitusi dan senang terima kritik yang konstruktif.

Perubahan pandangan yang amat vital berlangsung pada awal abad ke-20, disaat bangsa indonesia menjadi sadar eksistensinya di tengah bangsa lain, terlebih bangsa-bangsa dikawasan Asia. Ada dua segi utama yang mengakibatkan bangkitnya kesadaran nasionalisme indonesia, Pertama peninggalan nenek moyang didalam wujud epos dan narasi-narasi lain, peninggalan peristiwa didalam wujud monumen, dokumen, dan institusi sosial lainnya yang sesudah itu dipicu oleh kemenangan Jepang atas Rusia (1905). Bangsa indonesia bukanlah bangsa yang kecil, bangsa indonesia mesti melepaskan diri berasal dari kekuasaan kolonial, bangsa indonesia mesti berdiri sejajar bersama bangsa lain terhitung bangsa barat. Ilmu ilmu bukanlah mitos, bukan milik ras tertentu. Ilmu ilmu semua umat manusia, yang sanggup dimiliki oleh siapa saja yang sanggup mempelajarinya. Orientasimelah yang berfaedah sebagai pencipta mitos, menciptakan dunia timur bersama berbagai referensinya (stereotipe) barat perihal dunia timur, sebagai bangsa yang lebih rendah dibandingkan bangsa barat bersama berbagai atribut yang mereka berikan. Oleh gara-gara itu orientalisme didekonstruksi. Kedua, kesuksesan bangsa indonesia didalam menyerap ilmu pengetahuan, melalui bisnis intelektualnya agar sadar bersama sadar perkembangan yang berlangsung di dunia internasional. Selama masa kolonial perkembangan yaang berlangsung di dunia internasional ini disembunyikan oleh pemerintahan kolonial, bersama jalan halangi dunia pendidikan dan pengajaran. Namun kerap bersama perjalanan waktu kolonialisme yang berlangsung di belahan dunia udah mendekati ambang kehancuran.

Kesadaran nasional didalam kerangka postkolonial berbeda bersama pengertian pada umumnya. Kesadaran pertama menimbulkan etos kerja, yakin diri dan apalagi bisa saja simpati. Kesadaran ke-2 menimbulkan sikap patriotik, balas dendam, benci, antipati, dan marah. Kesadaran nasional postkolonial mengakibatkan intelektualitas bukan emiosionalitas, bersama alasan bahwa penjajahan udah sadar bakal kekeliruannya. Dengan demikian, balas dendam tidak ulang ada manfaatnya, justru berkerjasamalah yang penting. Kesadaran nasional postkolonial adalah gejala yang terlihat kepermukaan, yang bisa saja dulu diakui hal yang tidak penting, tetapi sekarang justru amat mutlak dan dibutuhkan. Perubahan paragdima, penataan ulang bangsa butuh butuh kesadaran konseptual ini, gara-gara di masa paksa kolonial semata-mata pertanggungjawaban inilah yang sanggup mengantarkan bangsa indonesia pada kondisi-kondisi yang lebih bermakna. Pada masa lalu bangsa belanda, jepang dan inggris kita sebut sebagai kolonial, tetapi sekarang udah berubah jadi kolgial (Subaryana, 2011).

Sikap nasionalisme dan patriotisme di indonesia memang udah ada sejak zaman dahulu, tetapi baru sehabis timbulnya pergerakan nasional, terlebih ditandai bersama berdirinya budi utomo tahun 1908, dan sesudah itu sumpah pemuda pada tahun 1928, nasionalisme dan patriotisme bangsa indonesia udah mengemuka. Hal ini seperti yang udah dikatakan oleh Tasa (2009: 113) bahwa sumpah pemuda merupakan suatu tonggak peristiwa yang monumental dan mengandung ilham kepatriotan dan kepahlawanan. Pada menjelang dan awal kemerdakaan indonesia nasionalisme dan patriotisme amat kuat dikalangan pemimpin maupun rakyat indonesia. Namun sayang di akhir orde baru apalagi sampai sekarang ini sikap patriotisme itu tambah lutur, seiring bersama maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme di negeri ini.

Sikap nsionalisme dan patriotisme tidak hanya dimiliki oleh para pahlawan. Saat ini tiap tiap warga negara indoonesia mesti punyai cii-ciri patriotisme gara-gara sehabis indonesia merdeka, bangsa ini masih dihadapkan bebagai tantangan, seperti: kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, KKN dan lain sebagainya. Hal berikut mesti dilawan, terkecuali bangsa ini tidak senang ketinggalan berasal dari bangsa lain. Karena itu mesti terdapatnya revitalisasi dan reaktualisasi sikap nasionalisme dan patriotisme yang sanggup diwujudkan didalam berbagai bentuk, seperti: mencintai dan mengunakan product didalam negeri; menjaga lingkungan hidup; menjaga layanan umum; melestarikan budaya; dan berpartisipasi didalam pembangunan bangsa, menaati aturan dan hukum, melawan kejahatan dan lain sebagainya.

Dalam segala tindakannya sebagai warga negara yang punyai cii-ciri nasionalisme dan patriotisme tidak bakal mengejar hadiah atau penghargaan atas jasa-jasanya. Mereka diresapi oleh rasa tanggungjawab pada hati nurani dan pada perasaan cinta kepada tanah air dan bangsa. Berkaitan bersama hal berikut mereka bakal mengusahakan untuk berpegang pada norma-norma kebaikan bersama obyek memperbaiki hasil atau prestasi kerjanya dan juga berkontribusi didalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sesuai bersama cita-cita para founding father.

Baca Juga :