Quo Vadis Pendidikan Indonesia

Quo Vadis Pendidikan Indonesia

Quo vadis pendidikan Indonesia – Sungguh menarik untuk dicermati diskusi perihal pendidikan Indonesia yang disiarkan TVRI lebih dari satu pas lalu. Temanya adalah quo vadis pendidikan Indonesia.

Secara umum, rancangan pendidikan di negeri ini sudah disusun sedemikian rupa supaya terbentuklah muka pendidikan sekarang ini. Sudah banyak perangkat peraturan perundang-undangan yang ditelurkan mengakomodasi rancangan dan pedoman pelaksanaan pendidikan.

Pendidikan itu memanusiakan manusia. Mengubah sikap dan tingkah laku manusia Indonesia ke arah yang lebih baik. Pendidikan yang bermutu akan meningkatkan mutu sumberdaya manusia Indonesia. Hal ini memperlihatkan relevansi mutu pendidikan dengan mutu sumberdaya manusia.

Pendidikan dijadikan sebagai keliru satu beberapa syarat di dalam penentuan indek pembangunan manusia (IPM) oleh badan dunia UNDP. Sampai pas ini peringkat IPM Indonesia tetap jauh tertinggal oleh negara lain, terutama di asia tenggara. Fakta ini berikan tanda bahwa rancangan dan pelaksanaan pendidikan haruslah dibenahi sesegera mungkin.

Perangkat perundang-undangan yang menyesuaikan pendidikan sudah lumayan banyak tetapi belum menjamin tercapainya pendidikan yang berkualitas. Saking banyaknya, rancangan hakiki perundang-undangan itu tambah tidak jelas.

Bahkan pelaksana undang-undang dan peraturan itu sendiri tambah kebingungan untuk menerapkannya. Akibatnya, pelaksanaan pendidikan tetap mengfungsikan pola lama yang diberi label baru.

Secara global, hasil pendidikan di negeri ini belum cocok dengan keinginan dan keperluan bangsa ini. Di tingkat lembaga pendidikan sekolah misalnya, tetap mengedepankan masalah hasil belajar. Ada semacam kecenderungan menjadikan nilai evaluasi murni (NEM) sebagai primadona.

Padahal, NEM hanyalah sebagai tolok ukur mutu pendidikan di Indonesia. Jika NEM dijadikan sebagai seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, itu cuma sebagai wadah sesaat.

Pendidikan belum berorientasi kepada bagaimana sistem studi yang dijalankan. Maka pantaslah, anak yang diakui berkemampuan tinggi gara-gara NEM-nya tinggi tidak sanggup berbuat apa-apa kala terjun ke tengah masyarakat. Mereka pandai di otak tetapi tetap lemah di dalam keterampilan dan keahlian di dalam hidup (lifes-klill)

Lalu, quo vadis pendidikan Indonesia? Mau dibawa kemana pendidikan Indonesia? Kita sudah maklum jawabannya! Pendidikan Indonesia kudu dibawa ke nuansa yang sanggup mendongkrak mutu sumberdaya manusia.

Pendidikan di negeri ini haruslah mengedepankan faktor humanisme dan pendidikan berkarakter. Namun di dalam pelaksanaannya mengedepankan terhadap rancangan pendidikan tidak mahal dan jauh dari intervensi keperluan politik kelompok tertentu, steril dari korupsi dan nepotisme.

Sumber : https://www.ruangguru.co.id/download-contoh-surat-penawaran-harga-yang-benar/