Penyebab Sederhana Anak Tak Gemar Matematika

Penyebab Sederhana Anak Tak Gemar Matematika – Minat anak-anak Indonesia terhadap matematika masih rendah. Masih tidak sedikit yang memandang bahwa matematika ialah bidang yang susah dan tidak menyenangkan. Apa yang mengakibatkan hal itu?

Guru Besar Matematika Universitas Gadjah Mada Prof. Dr. rer. nat. Widodo, M.S. mengungkapkan, menurut hasil survei terhadap 1.000 lebih murid ditemukan terdapat tiga penyebab utama mengapa matematika masih dirasakan sesuatu yang sulit.

“Pertama bukunya, kedua gurunya, ketiga siswanya. Kita lihat di nyaris semua toko kitab pasti kitab matematika itu tidak sedikit yang tidak punya konteks, langsung membicarakan limit tersebut apa, integral apa, jadi apa menariknya? Berbeda dengan Jepang yang menggunakan konteks. Matematika yang tidak banyak konteks bakal menjadi matematika yang abstrak,” kata Widodo ketika acara talkshow 21st Century Math Skills: Change The Focus From Calculation to Exploration di Senayan, Jakarta, Selasa.

Kemudian dari segi guru matematika di Indonesia, Widodo menuturkan bahwa melulu 11,35 persen guru matematika di Indonesia yang mempunyai kompetensi dan kemampuan mumpuni dalam mata latihan ini. Kebanyakan tidak menguasai latihan ini sehingga saat ada murid kreatif bertanya, dia bakal marah sebab ketidaktahuannya itu.

Yang terakhir ialah siswa, dimana semenjak dulu kala matematika tersebut sudah dicap susah oleh nenek moyang kita. Maka, andai sejak mula matematika sudah disebutkan sulit, dia pun bakal menjadi sulit.

“Anak butuh motivasi, caranya ialah kesatu guru mesti memberi peluang pada siswa bodoh, sedang, dan pandai untuk sukses satu kali saja. Misalnya, dalam satu semester terdapat tujuh kali ujian, bila semua ujian tersebut dia tidak berhasil terus tentu dia bakal menyerah. Keberhasilan itu dapat menimbulkan motivasi,” ujar Widodo.

Kemudian, Widodo pun mengimbau supaya pemerintah membuat kitab matematika demgan konteks laksana yang dilaksanakan pada tahun 2013 guna SMP dan SMP yang mempunyai semboyan tematik plus mapel. Artinya, mengajarkan matematika dikontekskan dengan fisika, masalah keuangan, perangkat musik, dan sebagainya. Karena konteks tersebut penting dalam matematika.

“Faktor beda di luar ketiga hal tadi yang butuh saya tambahkan ialah guru matematika bila mengajar tidak pernah senyum. Itu di antara penyebab juga, guru matematika tidak pernah senyum dan tidak memberikan kisah menarik,” kata Widodo menambahkan.

Baca diĀ sekolahan.co.id/