Pengertian Anak Pekerja

Pengertian Anak Pekerja

Pengertian Anak Pekerja 

Pengertian Anak Pekerja
Pengertian Anak Pekerja

 

Pekerja berasal dari kata kerja yang berarti

“perbuatan melakukan sesuatu kegiatan yang bertujuan mendapatkan hasil, hal pencarian nafkah”[1]. Sedang kerja dalam arti luas adalah “semua bentuk usaha yang dilakukan manusia dalam hal materi atau non materi, intelektual atau fisik maupun hal-hal yang berkaitan dengan keduniaan atau keakhiratan”[2]. Dan mendapatkan imbuhan pe- sehingga menjadi pekerja yang berarti “orang yang bekerja.” Anak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai “keturunan dari ikatan perkawinan”[3].

Dengan memahami pengertian pekerja anak

diatas maka dapat diketahui siapa anak pekerja itu. Anak pekerja adalah anak yang bekerja. Dan juga bisa diartikan anak dewasa yang melakukan sesuatu kegiatan dan bertujuan mendapatkan hasil. Sehingga anak untuk mendapatkan hal itu biasanya banyak dilakukan di luar rumah. Oleh karena itu, peneliti dapat memberikan pengertian bahwa anak pekerja adalah anak dewasa yang melakukan kegiatan secara teratur atau berkesinambungan dalam jangka waktu tertentu sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk melakukannya yang dapat mengurangi waktu untuk keluarga dengan tujuan untuk menghasilkan atau mendapatkan sesuatu dalam bentuk benda atau uang untuk kemajuan dalam kehidupan.

Guna memperkuat argument tersebut

pada bagian ini dideskripsikan identifikasi anak usia dewasa yang pada umumnya mereka sudah menunjukkan aktivitas yang lebih kerap bersentuhan dengan pekerjaan orang yang lebih dewasa. Dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa anak sebelum dilahirkan dan masa anak sesudah dilahirkan. Ketika anak sudah menunjukkan kerapnya aktivitas dimulai ketika anak menginjak usia 12-18 tahun setelah kelahiran anak yang dikenal dengan usia remaja.

Perkembangan remaja dibagi dua masa, “yaitu

masa pra pubertas (pueral) 12-14 tahun dan masa pubertas 14-18 tahun”[4]. Masa puber adalah suatu masa saat perkembangan fisik dan intelektual berkembang sangat cepat, baik secara organis maupun anatomis dan psikis. Pada akhir masa pubertas dan awal masa dewasa perubahan secara cepat mulai berhenti dan akan kembali tenagng serta stabil. Dijelaskan Salman, “Remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua ke arah kemandirian, minat-minat, seksual, perenungan diri dan perhatian terhadap nilai-nilai estetika serta isu-isu moral”[5]
Menurut Maria Montessori “anak Usia 12-18 tahun merupakan masa penemuan diri dan pemuasan masalah-masalah moral”[6]. Hal senada juga dikemukakan oleh Ch. Bucler seperti yang telah dikutip oleh Sumadi Suryabrata, bahwa “usia 13-17 tahun merupakan fase penemuan diri dan kematangan”[7].
Lebih tegas berdasarkan didaktis, Maria Montessori membagi masa perkembangan anak menjadi empat bagian, yaitu :
  1. Usia 1;0-7;0 tahun, yaitu masa penerimaan dan pengaturan rangsangan dari luar melalui alat indra.
  2. Usia 7;0-12;0 tahun, yaitu masa abstrak. Pada masa ini anak sudah mulai memperhatikan masalah kesusilaan, mulai berfungsinya perasaan etnisnya yang bersumber dari kata hatinya. Dia mulai tahu akan kebutuhan orang lain.
  3. Usia 12;0-18;0 tahun, yaitu masa penemuan diri serta kepuasan terhadap masalah-masalah moral.
  4. Usia 18;0-24;0 tahun, yaitu masa pendidikan di perguruan tinggi. Masa ini untuk melatih anak akan realitas kepentingan dunia. Ia harus mampu berpikir secara jernih, jauh dari perbuatan tercela”[8].
Dari beberapa pendapat tentang perkembangan anak yang telah dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas, nampaknya terdapat perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Namun perbedaan tersebut, hanya sebatas redaksi mengenai istilah dan batasan umur. Remaja memiliki penampilan yang bersifat reflectivity atau kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang terjadi pada diri seseorang dan mempelajari dirinya sendiri. Mereka mulai mengkritik sifat-sifat pribadi meeka, membandingkan diri mereka sendiri dengan orang lain, dan mencoba mengubah dirinya seperti orang lain atau teman lain.
Identitas lain dari remaja yaitu menaruh perhatian yang besar pada cara orang lain memandang mereka, mereka senang mencari sesuatu yang sudah berlalu, mereka bertindak berdasarkan perasaan serta suka mengekspresikan kepercayaan dan pendapat mereka.
Perkembangan kepribadian lain yang penting pada masa remaja adalah tuntutan otonomi yang bertambah untuk menentukan diri sendiri dan pada saaat itulah anak menyesuaikan diri (conformity) untuk dapat diterima oleh kelompok anak tersebut. Menurut Albert Bandura, proses yang mengantarai perubahan tingkah laku remaja dipengaruhi oleh pengalaman yang mengarahkan untuk menuntaskan keterampilan-keterampilan atau tugas-tugas anak. Mekanisme sosial yang mempasilitasi harapan-harapan pribadi remaja meliputi empat sumber pokok yang berpengaruh :
  1. Pengembangan keterampilan yang kondusif bagi perubahan tingkah laku, yaitu remaja diberi kesempatan berprilaku, mengobservasi orang lain yang menampilkan prilaku yang layak secara berhasil, atau diberikan pengalaman instruksi tau mengajar sendiri.
  2. Pengalaman yang beragam, dimana remaja mempunyai kesempatan untuk memandang model-model simbolik memberikan sumber informasi penting yang dapat meningkatkan harapan-harapan dirinya.
  3. Persuasi verbal, seperti sugesti dan teguran.
  4. Penciptaan situasi yang dapat mengurangi dorongan emosional, yang mempunyai nilai-nilai informative bagi kompetensi pribadi.

Sumber : https://dcc.ac.id/blog/sejarah-perumusan-teks-proklamasi-kemerdekaan-indonesia/