Game Online Rusak Mental Anak

Game Online Rusak Mental Anak

Game Online Rusak Mental Ana

Game Online Rusak Mental Anak
Game Online Rusak Mental Anak

Beberapa bulan terakhir ini tindak kriminalitas

yang melibatkan pelajar terus terjadi. Misalnya kasus perampokan dan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) melibatkan pelajar-pelajar yang terdidik. Dan adapula kasus yaitu pembacokan yang dilakukan oleh anggota ormas yang sedang melintas  belum lagi kasus tawuran antar pelajar yang sampai-sampai meninggal. Aksi kekerasan yang melibatkan pelajar merupakan akumulasi dari apa yang dilihat, ditonton, dan didengar anak-anak. Ketika mendapat kesempatan dalam momen tertentu, anak-anak ini mengaplikasikan hasil tontonannya itu dalam bentuk perkelahian atau permainan kekerasan yang sering luput dari pengawasan oleh orang tua ataupun yang lainnya. Dan hal ini pula bisa merusak mental anak yang sedang tumbuh berkembang mencari jadi dirinya.

 

Bila orang tua sekadar untuk menyenangkan buah hati mereka

tanpa memikirkan efek samping yang dilakukan oleh anak itu sendiri. Orang tua akan medapatkan dampak buruk. Bisa saja si anak itu menjadi korban dari kekekaran yang dilakukannya. Dan juga si anak bisa menjadi pelaku utama kekerasan di lingkungan sekitar. Sebagai orang tua wajib kita mengingatkan dan bahwan kita harus terjun langsung untuk mengawasi, walaupun tidak seharian. Minimal kita tahu keadaan anak itu, sedang apa dia, lagi ngapain dia, dan sama siapa dia.

 

 Orang tua harus selektif dalam memberikan permainan kepada anaknya.

Begitu juga kepada penyedia game online di luar rumah. Meski game online dengan fitur perkelahian memiliki pangsa pasar bisnis menggiurkan, mereka harus mengedepankan moralnya. Bila tidak diseleksi, secara tidak langsung penyedia game online ikut berkontribusi dalam menciptakan karakter di lingkungan anak. Bisnis jangan dilihat aspek profit saja akan tetapi lihat perspektif psikologis dan social yang bakal diterima oleh konsumen itu sendiri.

 

Sementara hasilpenelusuran yang dilakukan dalam warung internet (warnet)

menyatakan konsumennya mayoritas anak pelajar SD hingga SMA.mereka menjadikan warnet sebagai tempat bermain karena menyediakan game online dengan biaya murah. Di beberapa warnet bahkan terlihat siswa masih menggunakan  baju seragam sekolah. Di waktu senggang mereka menghabiskan waktu di lapangan olahraga. Siswa berseragam sekarang ini lebih senag memilih berlama-lama di hadapan monitor computer untuk bermain-main di dunia maya.

Hanya mengeluarkan uang sekitar Rp3000 – Rp4000 untuk satu jam, mereka bebas memilih permainan yang diinginkan. Dengan harga yang terbilang sangat terjangkau itu, anak-anak sekolah yang masuk ke warnet dapat mengakses semua permainan game online, yang dapat membuat mereka terhubung pemain-pemain lain di luar kota bahkan di luar negeri sekalipun.

Ribuan nama permainan via internet yang masuk dalam genre role playing game (RPG) atau first person shooter (FPS) yang kini tersebar di dunia maya banyak menyajikan visualisasi dan audio yang merujuk pada kekerasan. Meski ada juga game online yang bersifat edukasi, fantasi, olahraga hingga sejarah, pelajar pengguna internet saat ini nyatanya lebih senang memainkan permainan-permainan dari dua genre tersebut. Hasilnya, banyak pelajar yang terinspirasi untuk melakukan adegan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari.

Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari) menyadari kelonggaran aturan sehingga menyebabkan pelajar bebas memilih game online dalam bentuk apapun. Meski demikian, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Kita lebih mengatur tentang kode etik usaha dari warnet itu sendiri secara prinsip, buakn secara teknis. Kita hanya memberi tahu agar warnet dibuka untuk memberi manfaat positip kepada lingkungan sekitarnya. Kalaupun ada anggota yang nakal, kita tidak bisa melarang. Tujuan utama didirikan Asosiasi ini adalah untuk memperjuangkan kepentingan seperti kebutuhan perangkat lunak, ungkap Ketua Awari Irwin Day.

Pihaknya mengaku prihatin atas penyalahgunaan fungsi dari game online yangdi adaptasi oleh pelajar. Sangat banyak permainan di internet yang sebenarnya ditujukan pengguna dewasa. “Game-game yang saat ini tersebar sudah sangat memprihatinkan. Karena game-game itu sebenarnya mempunyai segmen umur. Sedangkan anak-anak sekarang banyak yang memainkan game yang ditujukan untuk pengguna internet dewasa. Permainan yang masuk dalam segmen dewasa, biasanya mengandung kekerasan, kata-kata kasar, dan tingkat seksualitas, “ kata Irwin.

Dia juga menerangkan bahwa di luar negeri permainan game online diberikan dengan batasan umur serta peraturan yang jelas. Sementara di Indonesia sendiri susah mengaturnya, bahkan walaupun sudah ditempel di papan pengumuman. Hanya sebagian kecil yang membaca dan mematuhinya. Karena game online sudah menjadi darah daging permainan anak-anak itu. Di luar sana banyak hal yang bisa kita lakukan selain bermain game online yang lebih bermanfaat daripada menghabiskan waktu seharian di warnet yang tidak manfaatnya bagi anak itu sendiri. Di sini peran orang tua sangatlah penting untuk menjadikan anak itu tidak kecanduan game online tersebut. Anak adalah masa depan keluarga dan masa depan bangsa yang siap menggantikan senior. Untuk itu semangat jangan menyerah terus berjuang demi anak didik yang sukses.

Sumber : http://carapengobatanalamiherbal.com/strategi-penerapan-pembelajaran-siswa-aktif-di-sekolah/