Zilingo Luncurkan Seller Loyalty

Zilingo Luncurkan Seller Loyalty

Zilingo Luncurkan Seller Loyalty

Zilingo Luncurkan Seller Loyalty
Zilingo Luncurkan Seller Loyalty

online marketplace fashion dan lifestyle terbesar di Asia Tenggara

meluncurkan program Zilingo Seller Loyalty. Dalam program ini, sebanyak 200 seller loyal diberikan beasiswa pendidikan bahasa Inggris gratis untuk mendukung upaya penjual memasuki pasar perdagangan global.

Melina Marpaung, Head of Marketplace PT Zillion Tech Indonesia (Zilingo), mengutarakan, Zilingo didirikan untuk menghubungkan pencinta mode, baik seller maupun buyer, di seluruh Asia dengan pilihan fashion yang sangat beragam.

 

Hal tersebut juga yang melandasi Seller Loyalty Program Zillingo

yakni apresiasi dan edukasi. Selain itu, Seller Loyalty Program Zillingo diharapkan mampu menjadi motivasi bagi seller untuk mengembangkan profil dan kinerja bisnisnya.

Program beasiswa pendidikan bahasa Inggris

ini merupakan bentuk penghargaan e-commerce ini terhadap seller yang loyal. Sebanyak 200 seller Zillingo dari 18 provinsi di Indonesia akan mendapatkan Loyalty Program yang resmi dimulai pada Oktober hingga akhir 2018.

Dalam program ini, Zilingo menunjuk beberapa lembaga pendidikan bahasa Inggris kompeten sebagai tenaga pengajar untuk para seller.

Sumber : https://merekbagus.co.id/

Solusi Bagi Para Pencinta Fashion

Solusi Bagi Para Pencinta Fashion

Solusi Bagi Para Pencinta Fashion

Solusi Bagi Para Pencinta Fashion
Solusi Bagi Para Pencinta Fashion

Wanita masa kini punya solusi untuk urusan penampilan. Tidak usah lagi merasa tak punya baju saat ingin beraktivitas ataupun pesta.

Bahkan, setelah ada Style Theory, startup buatan Chris Halim dan rekannya di Singapura, kaum hawa tak perlu menghamburkan uang untuk membeli pakaian.Ya, di Style Theory siapa pun dapat meminjam busana terbaik dari para desainer dan merek ternama.

Bagaimana Style Theory dapat menjadi solusi fashion masa kini? Bagaimana pula Chris memulai startup ini dan mengembangkannya? Berikut jawaban Chris kepada KORAN SINDO. 

 

Bagaimana ide awal Style Theory dibuat? 

Style Theory merupakan salah satu platform atau aplikasi penyewaan baju terbesar di Asia. Style Theory diluncurkan pertama kali di Singapura, tepatnya pada Mei 2016, dan masuk ke Indonesia sejak November 2017. Ide mendirikan Style Theory dilatarbelakangi oleh obrolan ringan dengan kolega.

Kami menyadari bahwa sebagian besar wanita memiliki kegelisahan dan permasalahan dalam berpenampilan, terutama pakaian. Mereka sering merasa tidak memiliki baju untuk dipakai, walaupun koleksi baju masih menumpuk dan bisa dipakai lagi.

 

Rental busana ini menjadi solusi bagi para wanita. Ada alasan di balik peminjaman busana ini?

 Salah satu alasan utama kami mendirikan Style Theory memang untuk memperbaiki dan memberikan solusi pintar untuk wanita ketika mengonsumsi fashion . Kami ingin mengubah gaya hidup mereka, memberikan cara hidup berkelanjutan untuk mengonsumsi busana melalui jasa persewaan kami.

Karena itulah, kami merasa perlu ada sebuah cara untuk memberikan solusi bagi wanita. Mereka dapat selalu tampil menarik melalui fashion , tapi tidak terhambat oleh pilihan fashion yang itu-itu saja.

Bagaimana cara menggunakan Style Theory? 

Style Theory merupakan aplikasi penyewaan baju berbasis langganan. Seluruh user experience berlangsung di satu aplikasi. Pengguna hanya tinggal mengunduh aplikasi Style Theory (iOS & Android) dan melakukan registrasi pendaftaran.

Untuk menikmati layanannya, pengguna harus berlangganan terlebih dulu dengan biaya pendaftaran sebesar Rp590.000 pada bulan pertama. Pada dasarnya sistem langganan yang ditawarkan adalah commitment free. Setelah satu bulan, pelanggan dapat memutuskan untuk melanjutkan ke langganan commitment plan (3 bulan atau 6 bulan).

Sebelum melakukan peminjaman, pengguna akan diminta memasukkan perkiraan ukuran tubuh sehingga pada saat pengguna memilih baju yang akan dipinjam, Style Theory dapat secara otomatis memberikan rekomendasi ukuran yang tepat. Pelanggan bisa menyewa baju sebanyak tiga pieces dalam sekali penyewaan.

Pelanggan boleh menyimpan baju yang dipinjam sampai kapan pun selama masa berlangganannya tetap aktif. Jika ingin melakukan penyewaan berikutnya, pelanggan harus mengembalikan tiga baju yang disewa sebelumnya terlebih dulu.

 

Bagaimana perkembangan Style Theory hingga saat ini? 

Kami telah memiliki ribuan pengguna di Indonesia. Sebagai perusahaan fashion, kami berupaya menghadirkan inovasi yang relevan untuk wanita. Tahun lalu kami meluncurkan Style Theory Modest, di mana koleksi yang kami suguhkan memiliki lebih banyak modest wear yang pas untuk para wanita pengguna hijab.

Sementara tahun ini kami telah memperluas area operasional Style Theory hingga ke Bandung dan Surabaya. Selanjutnya, Style Theory akan terus berkomitmen untuk menghadirkan koleksi pakaian yang selalu on trend serta diminati oleh pelanggan. Selain itu, juga melebarkan sayap operasional Style Theory ke kota lain.

Bagaimana respons dari pengguna? 

Kami mendapatkan respons yang baik, di mana pengguna cukup antusias dengan konsep yang kami hadirkan. Penyewaan baju merupakan hal yang baru di Indonesia dan banyak orang yang belum begitu familier dengan konsep “menyewa” sehingga kehadiran kami menjadi angin segar di antara penyedia fashion lain.

Apa tantangan yang Anda hadapi ketika membangun Style Theory? 
Salah satu tantangan yang kami hadapi ketika menghadirkan Style Theory di Indonesia adalah infrastruktur logistik, baik di Jakarta maupun kota lain. Selain itu adalah menjelaskan konsep dari penyewaan baju kepada konsumen di Indonesia.

Kami memberikan servis all in one dengan kualitas yang baik, di mana kami juga menyediakan laundry dan delivery service sehingga pelanggan hanya perlu meminjam dan menikmati kemudahan dari pelayanan yang kami hadirkan.

Adakah kerja sama dengan fashion brand tertentu atau pihak lain? 
Dalam perhelatan Jakarta Fashion Week 2019 pada Oktober lalu, kami bekerja sama dengan brand fashion lokal, yakni Paulina Katarina, Rani Hatta, dan Day and Night, untuk menghadirkan koleksi mereka di Style Theory dengan konsep “See Now, Rent Now”, di mana koleksi yang ditampilkan dapat langsung disewa melalui aplikasi Style Theory.

Baca Juga : 

Hadirkan Fashion Vintage yang Terjangkau

Hadirkan Fashion Vintage yang Terjangkau

Hadirkan Fashion Vintage yang Terjangkau

Hadirkan Fashion Vintage yang Terjangkau
Hadirkan Fashion Vintage yang Terjangkau

PENDIRI label fashion Staud

Sarah Staudinger, adalah perempuan muda yang paham celah pasar di industri mode.  Dia menghadirkan produk fashion bergaya vintage berkualitas baik tapi harganya terjangkau. Sejak kecil, perempuan yang lahir 29 tahun lalu di Pacific Palisades, California, Amerika Serikat ini sudah dikelilingi dunia fashion .

 

Ibunya, Joanna Staudinger, adalah

Imigran asal Lebanon yang merancang sendiri sepatu dan kaus bertabur berlian imitasi. Sepatu dan kaus tersebut kemudian dijualnya ke pengecer LA Fred Segal yang trendi.
“Saat masih kecil, saya mengumpulkan temanteman dan berpura-pura menggelar pertunjukan runway . Kami mengenakan kaus dan sepatu racangan ibu saya,” ujar Staudinger, seperti dilansir Forbes.com. Sementara itu, ayahnya merupakan imigran Jerman yang bekerja di real estate.

 

Ayah Staudinger juga merupakan

Seorang penata pakaian yang bergaya. Dia lebih menyukai pakaian monokrom dalam warna putih dan hitam. “Sejak kecil, saya tahu saya ingin memulai perusahaan sendiri, tetapi bingung apakah akan belajar bisnis atau mengejar rute yang lebih kreatif,” ujar Staudinger.

Staudinger akhirnya menempuh pendidikan di New School, New York. Dia kemudian mengambil kursus mode di Parsons School of Design. “Saat sekolah, saya sempat magang di Men’s Vogue sampai majalah itu berakhir pada akhir 2008. Saya bekerja dengan banyak stylist ,” ujar Staudinger.

Setelah lulus, Staudinger bekerja sebagai direktur mode untuk Reformation. Reformation merupakan ritel fashion online di Los Angeles yang fokus pada fashion yang berkelanjutan, seperti pakaian yang terbuat dari kain sisa.

 

Pengalamannya di media dan ritel fashion membuatnya

Semakin percaya diri untuk menciptakan label fashion sendiri. Staudinger akhirnya mendirikan label mode bernama Staud pada 2015 di Los Angeles.  Staudinger bersama dengan rekannya, George Augusto, ingin mengatasi celah di pasar yang belum terisi, yakni pakaian fashionable namun dengan harga terjangkau. Staudinger ingin mengisi celah di pasar untuk “estetika kelas atas pada titik harga yang dapat diakses”.

Label fashion ini berusaha untuk menciptakan potonganpotongan yang terinspirasi dari pakaian vintage . Hal ini karena pakaian vintage akan bertahan musim demi musim. Dia menciptakan tas berdesain vintage yang dijual kisaran harga USD195 (Rp2,7 juta) hingga USD500 (Rp7 juta).

Sementara itu, untuk pakaian dihargai dari USD85 (Rp1,1 juta) hingga USD400 (Rp5,6 juta). Pakaian andalan yang dijual pertama kali di label fashion ini adalah jumpsuit yang terinspirasi gaya 60-an. Menurutnya, jumpsuit adalah jenis fashion yang tepat, abadi, cantik, dan terjangkau.

Barang-barang yang dijual oleh Staudinger, dengan cepat diterima baik oleh pasar. Label Staud pun menjadi favorit di antara influencer dan selebriti terkenal, termasuk Alexa Chung dan Leandra Medine.

Berkat kesuksesan dan kepopuleran label Staud, perusahaan investasi Burch Creative Capital, yang dikelola oleh J Christopher Burch, menginvestasikan USD1,6 juta (Rp22,4 miliar). Burch menilai Staud memiliki nilai keuntungan sebesar USD10 juta (Rp140 miliar), menurut PitchBook.

 

“Sarah Staudinger memiliki sudut pandang unik

Di tengah lautan kesamaan,” kata Burch. Sejak awal berdiri, Staud dijual secara online . Pada Maret 2018 label ini membuka ruang pamer di New York untuk mengakomodasi janji dengan semakin banyak pembeli grosir.

Produk label fashion ini dijual oleh sekitar 120 pengecer, dengan persentase besar dari pengecer yang berlokasi di Eropa. Staudinger berrencana menumbuhkan bisnis online Staud lebih besar.

Tak hanya itu, dia berencana membuka toko dengan lokasi lebih jauh. “Kami terus fokus pada perluasan bisnis langsung ke konsumen, kemudian pada akhirnya kami berencana membuka toko kami sendiri,” katanya.

Sumber : https://www.modelbajumuslimbatik.com/

3 Cara Menyulap Kemeja yang Anda Pakai Terlihat Lebih Up to Date

3 Cara Menyulap Kemeja yang Anda Pakai Terlihat Lebih Up to Date

3 Cara Menyulap Kemeja yang Anda Pakai Terlihat Lebih Up to Date

 

3 Cara Menyulap Kemeja yang Anda Pakai Terlihat Lebih Up to Date

Jakarta Kemeja merupakan salah satu fashion item yang wajib Anda punya di lemari. Tak selalu dikenakan untuk gaya formal saja, tapi kemeja juga bisa Anda pakai untuk gaya kasual sehari-hari.

Jika selama ini Anda mengenakan kemeja dengan cara yang biasa, maka tak ada salahnya kini mencoba cara yang bisa bikin penampilan Anda terlihat lebih trendi dan tentu saja, stylish!

1. Kemeja oversize sebagai luaran

Coba kenakan kemeja oversize yang Anda punya sebagai luaran. Kenakan dalaman bralet dan rok mini denim. Kemudian, kenakan kemeja oversize dengan cara setengah dimasukkan ke dalam rok. Jangan lupa kenakan sepatu boots andalan.

2. Potongan seksi

Tampilan Anda akan terlihat semakin keren dan seksi saat mengenakan kemeja dengan memperlihatkan salah satu bahu. Kancingkan kemeja Anda mulai dari bagian tengah. Lalu, padukan dengan celana longgar.

3. Kemeja jadi atasan off shoulder

Selain bisa dijadikan sebagai atasan biasa, Anda pun bisa mengkreasikan kemeja jadi atasan off shoulder. Hampir serupa dengan gaya one shoulder, mengancingkan kemeja dari bagian tengah, namun kedua bahu Anda terlihat sehingga tampak lebih chic. Lalu, kenakan dengan celana jeans favorit.

 

Sumber : http://situsiphone.com/