Anak Pekerja dalam Pandangan Islam

Anak Pekerja dalam Pandangan Islam

Anak Pekerja dalam Pandangan Islam

Anak Pekerja dalam Pandangan Islam
Anak Pekerja dalam Pandangan Islam

 

Dalam buku Hak-Hak Asasi Manusia

Dalam Islam, Abu A’la Maududi menjelaskan bahwa “kaum pria dan anak pekerja berhak untuk memperoleh kesempatan-kesempatan kerja yang sama”[10], Jadi tidak satupun pekerjaan yang dihalalkan agama diharamkan atas anak dan hanya diperbolehkan bagi kaum pria dewasa saja.

Sebagian ulama menyimpulkan

bahwa Islam membenarkan kaum laki-laki (anak) boleh bekerja dalam berbagai bidang dalam batas-batas tertentu selama tidak melanggar hak-hak seoarang anak, di dalam ataupun di luar rumahnya, baik secara mandiri atau bersama orang lain, dengan lembaga swasta atau pemerintah, selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya.

Agama Islam memang membolehkan anak bekerja

mencari nafkah untuk keluarganya dengan memenuhi berbagai syarat, serta harus sesuai dengan kodratnya sebagai anak. Artinya pekerjaan yang sifatnya kasar dan berat tentu bukan bidangnya anak, karena secara fisik mereka tidak selayak seperti kaum pria yang telah mencapai kedewasaan yang dikaruniai kelebihan dengan kekekaran tubuh dan kekhususan-kekhususan jiwa lainnya. Secara kodrati anak dapat diserahi pekerjaan-pekerjaan yang ringan sesuai dengan kemampuan mereka, namun tidak berarti mereka tidak diperbolehkan mengerjakan pekerjaan yang berat dan kasar, tapi hanya saja tidak pantas dikerjakan oleh seorang anak.

Sebagai seoarang anak yang bekerja

juga dilingkungan keluarga dalam rangka membantu keluarga sebaiknya mencari jalan tengah antara mengerjakan pekerjaan rumah dan kerja diluar rumah. Pada prinsipnya Islam mengarahkan anak supaya dalam bekerja harus mengutamakan tugasnya yang utama yaitu mengatur perkembangan potensi anak dengan berbagai pendidikan yang diperlukan anak agar kelak dapat menjadi generasi penerus yang sholeh, dan agar anak mempunyai prestasi yang tinggi di dalam pendidikannya, sehingga dapat mengelola dunia ini dengan baik sesuai dengan tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah. Dari uraian di atas dapat peneliti pahami, bahwa Islam tidak melarang anak untuk bekerja, selama pekerjaan tersebut dilakukannya dalam suasana terhormat, sopan, serta selama mereka dapat memelihara agamanya, serta dapat pula menghindari dampak-dampak negatif dari pekerjaan tersebut terhadap diri dan lingkungannya dan harus sesuai dengan kodratnya sebagai seoarng anak.